ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Kebo (kerbau) bule, hewan malam 1 suro
![]() |
| Kebo bule, malam 1 suro |
Masyarakat Jawa khususnya di Yogyakarta dan Solo (Surakarta) masih memegang teguh ajaran yang diwarisi oleh para leluhurnya. Salah satu ajaran yang masih dilakukan adalah menjalankan tradisi malam satu Suro, malam tahun baru dalam kalender Jawa yang dianggap sakral bagi masyakarat Jawa.
Tradisi malam satu Suro bermula saat zaman Sultan Agung sekitar tahun 1613-1645. Saat itu, masyarakat banyak mengikuti sistem penanggalan tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Hal ini sangat bertentangan dengan masa Sultan Agung yang menggunakan sistem kalender Hijriah yang diajarkan dalam Islam.
Sultan Agung kemudian berinisiatif untuk memperluas ajaran Islam di tanah Jawa dengan menggunakan metode perpaduan antara tradisi Jawa dan Islam.
Sebagai dampak perpaduan tradisi Jawa dan Islam, dipilihlah tanggal 1 Muharam yang kemudian ditetapkan sebagai tahun baru Jawa. Hingga saat ini, setiap tahunnya tradisi malam satu Suro selalu diadakan oleh masyarakat Jawa.
Malam satu Suro sangat lekat dengan budaya Jawa. Iring-iringan rombongan masyarakat atau yang biasa kita sebut kirab menjadi salah satu hal yang bisa kita lihat dalam ritual tradisi ini.
Para abdi dalem keraton, hasil kekayaan alam berupa gunungan tumpeng serta benda pusaka menjadi sajian khas dalam iring-iringan kirab yang biasa dilakukan dalam tradisi Malam Satu Suro.
Di Solo, biasanya dalam perayaan malam satu Suro terdapat hewan khas yakni kebo (kerbau) bule. Kebo bule menjadi salah satu daya tarik bagi warga yang menyaksikan perayaan malam satu Suro. Keikutsertaan kebo bule ini konon dianggap keramat oleh masyarakat setempat.
Setiap malam satu suro tiba, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tak pernah absen menggelar ritual Kirab Kebo Bule keturunan Kyai Slamet. Ritual ini diselenggarakan untuk memohon berkah dan keselamatan serta sebagai wujud refleksi diri untuk menyambut tahun baru dalam penanggalan Jawa yang juga bertepatan dengan tahun baru Islam.
Bagi masyarakat Kota Solo, Kirab Kebo Bule merupakan momentum yang dinanti tiap tahunnya. Ritual tersebut merupakan simbol budaya nan adiluhung penanda datangnya Bulan Suro atau Muharam. Warga dari berbagai daerah di luar kota pun berdatangan untuk sekedar menonton ataupun ngalap berkah dari prosesi ritual Kebo Bule ini. Sebagian dari mereka percaya bahwa mengikuti kirab ini dapat membawa berkah dan keselamatan hidup kedepannya.
Ritual Kebo Bule di malam satu suro ini diawali dengan memanjatkan doa oleh para abdi dalem di depan Kori Kemandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Seusai berdoa, para abdi dalem tersebut kemudian menyebar singkong dan taburan kembang tujuh rupa untuk menyambut kedatangan si Kebo Bule keturunan Kyai Slamet yang dikeramatkan itu.
Konon katanya, ritual baru akan dimulai ketika si Kebo Bule mau berjalan keluar kandang dengan sendirinya. Jadi apabila sang kerbau belum mau keluar kandang, maka dapat dipastikan prosesi ritual belum dapat dimulai. Tak ada satupun abdi maupun sentono dalem Keraton Surakarta yang berani memaksa si kerbau berjalan, mengingat hewan tersebut sangat dikeramatkan. Para punggawa Keraton tak memperlakukan sang kerbau keramat tersebut layaknya hewan biasa, malahan mereka memperlakukannya seperti seorang pangeran.
Setelah sang Kebo Bule keturunan Kyai Slamet datang di depan Kori Kemandungan Keraton, para abdi dalem pun menyambutnya dengan penuh penghormatan gaya kejawen. Mereka melakukan sungkem di depan kerbau keramat, lalu mengalungkannya dengan untaian kembang melati dan kantil. Setelah itu sang kerbau dibiarkan memakan tebaran singkong di depan Kori Kemandungan Keraton.
Saat kawanan Kebo Bule tiba, suasana pun terasa semakin riuh. Banyak warga yang berusaha ingin menyentuhnya berharap mendapat berkah ataupun sekedar mengabadikannya melalui gawai mereka masing-masing. Para pengawal prosesi kirab pun langsung menghalau warga yang berusaha menyentuh sang kerbau keramat. Wajar saja, sekawan Kebo Bule keturunan Kyai Slamet yang dikeramatkan itu dikenal sangat sensitif, diharapkan kerbau keramat itu tidak terganggu oleh kerumunan warga sehingga mau berjalan sendiri untuk memulai prosesi kirab.
Tak lama berselang, sekawanan Kebo Bule keramat tersebut berjalan sendiri dari depan Kori Kemandungan keluar kompleks Keraton. Berjalannya sang kerbau keramat menandakan dimulainya prosesi kirab pusaka di malam satu suro. Dengan didampingi srati atau pawang kerbau berbaju putih, sebanyak empat ekor Kebo Bule keturunan Kyai Slamet mempimpin jalannya kirab di barisan paling depan.
Ribuan warga pun terlihat telah memadati sepanjang jalur rute kirab di kanan dan kiri. Tak ada kilatan lampu flash dan juga gema suara manusia. Hanya derap langkah para peserta kirab tak beralas kaki yang terdengar, semua hening ketika kirab Kebo Bule berlangsung. Di belakang sang kerbau keramat, barisan punggawa kerajaan membawa tombak dan sejumlah koleksi pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta.
Kebo bule keturunan Kyai Slamet yang dikeramatkan oleh pihak Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tersebut adalah jenis kerbau albino yang memiliki corak kulit berwarna putih dengan bintik kemerah-merahan. Persis seperti kulit orang-orang (bule) Eropa. Oleh sebab itu kerbau berkulit putih ini dikenal luas oleh masyarakat Kota Bengawan dengan sebutan Kebo Bule.
Konon ceritanya, Kebo Bule tersebut merupakan pemberian dari Bupati Ponorogo pada Sri Susuhanan Paku Buwono II saat masih bertahta di Keraton Kartasura, sekitar lima kilometer kearah barat dari Keraton sekarang yang berada di Kota Solo (dahulu bernama Desa Sala). Kerbau tersebut bukanlah kerbau biasa.
Kebo Bule sangat dikeramatkan dan menjadi salah satu ‘pusaka’ paling penting di Keraton Surakarta. Sejarahnya tertulis dalam beberapa literatur Jawa kuno, seperti tertera dalam Babad Giyanti karya pujangga kuno dan juga Babad Sala karya Raden Mas Said yang juga bergelar Adipati Mangkunegaran I. Kesemuanya menceritakan bahwa nenek moyang Kebo Bule adalah binatang kesayangan Sunan Paku Buwono II.
Alkisah menceritakan bahwa saat Sri Susuhunan Paku Buwono II ingin mencari lahan baru untuk dijadikan Keraton yang baru, beliau mempercayakannya pada Kebo Bule Kyai Slamet pemberian Bupati Ponorogo tersebut. Ketika itu, pusat pemerintahan masih berada di Keraton Kartasura. Akhirnya, sejumlah Kebo Bule Kyai Slamet dilepas dari kandang dan dibiarkan berjalan dengan diikuti para abdi dalem dari kejauhan. Saat sekawanan Kebo Bule itu berhenti di sebuah desa bernama Desa Sala, kemudian di lokasi tersebutlah Keraton yang baru akan dibangun. Saat ini desa tersebut menjadi Kota Solo dengan Keraton Kasunanan Surakarta sebagai istana kerajaannya.
Berbeda dengan Solo, di Yogyakarta perayaan malam satu Suro biasanya selalu identik dengan membawa keris dan benda pusaka sebagai bagian dari iring-iringan kirab.
Tradisi malam satu Suro menitikberatkan pada ketentraman batin dan keselamatan. Karenanya, pada malam satu Suro biasanya selalu diselingi dengan ritual pembacaan doa dari semua umat yang hadir merayakannya. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya.
Selain itu, sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling disini memiliki arti manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sementara, waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.
Baca : Sumber, Sumber
Baca : Sumber, Sumber

0 Response to "Kebo (kerbau) bule, hewan malam 1 suro"
Posting Komentar